BIOLOGI dan EKOLOGI KERANG BULU Anadara (Cunearca) pilula (REEVE, 1843)

Oleh

Widhya Nugroho Satrioajie1)

Researcher at Technical Implementation Unit for Marine Life Conservation, Ambon

Indonesian Institute of Sciences

 

ABSTRACT

BIOLOGY AND ECOLOGY OF THE COCKLE Anadara (Cunearca) pilula.   A. pilula is one of important species in Indonesia and Southeast Asia. This species life associated with another species like A. granosa (LINNAEUS, 1758), A. indica (GMELIN, 1791) and A. inequiualuis (BRUGUIERE, 1784). Knowledge about the biology this species are very limited because it less famous than another species of Anadara. The characteristic of A. pilula is having a maximum shell length 4 cm, commonly to 3 cm which nearly circular and many fur. This paper aime at discusses about the biology, habitat and distribution of A. pilula.

Kerang  A. pilula merupakan salah satu spesies penting di Indonesia dan juga di Asia Tenggara. Kerang ini hidup berasosiasi dengan beberapa spesies kerang lainnya antara lain A. granosa (LINNAEUS, 1758), A. indica (GMELIN, 1791) dan A. inequiualuis (BRUGUIERE, 1784). Pengetahuan mengenai biologi jenis kerang ini sangat terbatas karena kerang ini kurang populer dibandingkan dengan kerang anadara yang lainnya. Ciri khas dari kerang ini adalah mempunyai bentuk cangkang yang hampir membulat dengan ukuran panjang 3–4 cm dengan banyak bulu. Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan biologi, habitat dan distribusi A. pilula.

 PENDAHULUAN

Kerang merupakan salah satu jenis Moluska yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber bahan pangan alternatif. Indonesia memiliki beraneka ragam jenis kerang, yaitu sekitar  143 spesies dan baru sekitar 18 spesies dari kelas Gastropoda dan Bivalvia yang sudah dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan alternatif (BENGEN, 2009).

Genus Anadara merupakan salah satu dari berbagai jenis kerang yang telah dikenal di Indonesia. Secara sistematis Anadara berjumlah sekitar 60 dan tersebar dari Australia Selatan hingga ke Jepang dan Laut Mediterania di Utara (LIM, 1968 dalam AFIATI, 2005).  Salah satu spesies dalam genus tersebut yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan alternatif adalah Anadara (Cunearca) pilula (REEVE, 1843). MUDJIONO dan KASTORO (1997) menyatakan bahwa pengetahuan mengenai biologi jenis kerang ini sangat terbatas karena kerang ini kurang populer dibandingkan dengan A. granosa (LINNAEUS, 1758) yang sebelumnya telah dipelajari oleh PATHANSALI dan SOONG (1958) dan BROOM (1982).

Kerang Anadara pilula merupakan salah satu spesies penting di Indonesia dan juga di Asia Tenggara (POUTIERS, 1998; HUTOMO dan MOOSA, 2005). A. pilula hidup berasosiasi dengan beberapa spesies kerang lainnya antara lain A. granosa (LINNAEUS, 1758), A. indica (GMELIN, 1791) dan A. inequiualuis (BRUGUIERE, 1784). A. pilula banyak ditemukan hampir seluruh perairan Indonesia dengan tipe sedimen pasir berlumpur salah satunya pada perairan Utara Jawa (MUDJIONO dan KASTORO 1997; POUTIERS, 1998).

Kegiatan penangkapan kerang di Indonesia sudah banyak dilakukan, terutama di Pulau Jawa. Daerah penangkapan kerang di Pulau Jawa meliputi perairan Utara Jawa termasuk perairan Kota Tegal. Usaha penangkapan kerang yang dilakukan masih menggunakan cara tradisional seperti menggunakan alat garuk atau menggunakan tangan (BALAI RISET PERIKANAN LAUT, 2004).

MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI A. PILULA

Secara umum kekerangan merupakan kelompok hewan tidak bertulang belakang (invertebrata) dan bentuknya mudah untuk dikenali. Sebagian besar dicirikan dengan adanya cangkang yang melindungi tubuhnya dan hanya sebagian kecil jenis yang tidak bercangkang. Cangkang merupakan alat pelindung diri, terdiri atas lebih dari 98% lapisan karbonat (CaC, crystalline calcium carbonate) (AWANG et  al., 2007), dipisahkan oleh lapisan tipis (lembaran) protein di antara cangkang dan bagian tubuh (otot dan daging) (HUGHES, 1986 dalam SETYONO, 2006).

A. pilula termasuk ke dalam salah satu kelas dari phylum molusca, yaitu kelas bivalvia. Secara umum bagian tubuh kekerangan dibagi menjadi lima, yaitu (1) kaki (foot, byssus), (2) kepala (head), (3) bagian alat pencernaan dan reproduksi (visceral mass), (4) selaput (mantle), dan (5) cangkang (shell).   Pada bagian kepala terdapat organ-organ syaraf sensorik dan mulut. Bagian kaki merupakan otot yang mudah berkontraksi, dan bagian ini merupakan bagian utama alat gerak. Warna dan bentuk cangkang sangat bervariasi, tergantung pada jenis, habitat dan makanannya (SETYONO, 2006).

A. pilula memiliki tubuh pipih secara lateral dan seluruh tubuh tertutup dua keping cangkang yang berhubungan di bagian dorsal dengan adanya hinge ligament yaitu semacam pita elastik yang terdiri dari bahan organik seperti zat tanduk (conchiolin) sama dengan periostrakum, bersambungan dengan periostrakum cangkang (POUTIERS, 1998).

Kedua keping cangkang pada bagian dalam ditautkan oleh sebuah otot aduktor anterior dan sebuah otot aduktor posterior, yang bekerja secara antagonis dengan hinge ligament. Ketika otot aduktor rileks, ligament berkerut maka kedua keping cangkang akan terbuka, demikian sebaliknya. Guna mempererat sambungan keping cangkang, di bawah hinge ligament terdapat gigi atau tonjolan pada keping yang satu (POUTIERS, 1998).

          

  Gambar 2. A. pilula (www.seashellhub.com)

Periostrakum merupakan lapisan paling luar, dan menutupi dua lapisan kapur atau lebih di bawahnya (di dalam). Lapisan kapur tersebut terdiri dari argonit dan calcite, yang tersusun sebagai bentuk prisma, bilah–bilah (lath), atau lembaran–lembaran (mutiara), bentuk lensa atau bentuk lain yang lebih kompleks. Semua bentuk–bentuk tersebut ada tertanam dalam suatu kerangka (seperti disemen) (POUTIERS, 1998).

Mantel pada A. pilula berbentuk seperti jaringan tipis dan lebar, menutup seluruh tubuh dan terletak di bawah cangkang. Pada lipatan bagian tepi terdapat tiga lipatan dalam, tengah dan luar. Lipatan dalam adalah yang paling tebal, dan berisi otot radial dan otot melingkar. Lapisan tengah mengandung alat indra. Lapisan luar sebagai penghasil cangkang (BROOM, 1985).

OBIS Indo-Pacific Molluscan Species Database at The Academy of Natural Science (2006) menyatakan bahwa A. pilula yang termasuk di dalam kelas bivalvia mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Filum               : Molluska

Kelas               : Bivalvia

Sub Kelas        : Metabranchia

Ordo                : Pteriomorpha

Super Famili    : Arcoidea

Famili              : Arcidae

Sub Famili       : Anadarinae

Genus              : Anadara

Spesies            : Anadara (Cunearca) pilula (REEVE, 1843)

Pada permukaan dalam lapisan luar cangkang kerang menghasilkan periostrakum, dan permukaan luarnya menghasilkan lapisan kapur. Antara epitel mantel dan permukaan cangkang bagian dalam terdapat rongga (kecuali pada melekatnya otot palial), yang terisi cairan ekstrapalial, yang kemudian mengendap menjadi butiran–butiran kapur serta cangkang organiknya (POUTIERS, 1998).

Tempat melekatnya otot palial di sepanjang dekat tepi cangkang meninggalkan bekas berupa garis palial. Meskipun ada otot palial, ada kalanya benda asing seperti butir pasir atau parasit yang masuk ke dalam tubuh kerang terperangkap di dalam rongga di antara mantel dan cangkang. Benda asing dalam rongga tersebut berada dalam cairan ekstrapalial, sehingga terjadi pengendapan lapisan–lapisan mutiara di sekitar benda tersebut, yang makin lama makin tebal (POUTIERS, 1998).        Rongga mantel luas dan insang biasanya besar sekali karena selain berfungsi sebagai alat pernafasan, juga sebagai pengumpul makanan. Puncak cangkang disebut umbo menunjukkan bagian cangkang yang paling tua. Garis–garis melingkar sekitar umbo menunjukkan garis pertumbuhan cangkang. Bentuk, ukuran dan warna cangkang sangat bervariasi, sehingga penting untuk identifikasi (POUTIERS, 1998).

Pada dasarnya tepi mantel hanya melekat pada bagian dorsal saja, sedangkan tepi lainnya bebas. Namun dalam evolusinya terjadi penyatuan di beberapa tepi yang lain untuk efisiensi aliran air melalui insang, hingga berbentuk sifon air masuk dan sifon air keluar. Sifon kerang Anadara pendek, sehingga hanya dapat masuk ke dalam lumpur tidak terlalu dalam (BROOM, 1985).

A. pilula mempunyai bentuk cangkang yang hampir membulat dengan ukuran panjang 3–4 cm. Jalur–jalur radial yang terpusat ke arah umbo terputus– putus. Lapisan cangkang pada umunya berwarna putih keruh (POUTIERS, 1998).

SISTEM REPRODUKSI DAN SIKLUS HIDUP

GABBOT (1983) menyatakan bahwa aktivitas reproduksi merupakan suatu siklus dan mengikuti pola tahunan atau perubahan musim. Siklus gametogenesis terdiri atas akumulasi nutrisi untuk digunakan selama gametogenesis, deferensiasi gamet, pemijahan dan waktu istirahat reproduksi (resting periode). Gonad melalui tahap awal, pembentukan gamet, pembentukan sel kelamin dan berakhir dengan pemijahan. Proses ini pada dasarnya berkaitan dengan tahap pembentukan dan penyimpanan antara lain karbohidrat, lemak, dimana hasilnya akan dimanfaatkan oleh bivalvia selama proses perkembangan gonad (BAYNE, 1976).

Gonad terletak diantara kelenjar pencernaan dan usus. Gonad jantan berwarna putih lembut dan semi transparan sedangkan pada betina lebih bulat dan berwarna oranye (AFIATI, 2007). Kerang Anadara bersifat hermaprodit dimana gonad jantan dan betina terdapat pada individu yang sama, namun demikian pada stadia tertentu tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina (BROOM, 1985; AFIATI, 2007).

Pada penelitian di Teluk Blanakan Kabupaten Subang diketahui bahwa pada siklus reproduksi Anadara sp. mencapai kematangan seksual pada ukuran panjang anterior hingga posterior 18 sampai 20 mm ketika umurnya mencapai 6 bulan. Jumlah gonad yang dewasa dan matang gonad sangat banyak dalam musim breeding dan bertambah terus sampai maksimum sesaat sebelum tercapai puncak spawning (MUBARAK, 1987). BARON (2006) menambahkan bahwa siklus hidup kerang Anadara dari kelompok juvenil lebih dominan di daerah pasir yang dangkal dan jernih.

Kerang dan siput laut biasanya melepaskan sperma dan telur ke air pada malam hari. Pembuahan atau fertilisasi terjadi di luar tubuh atau di kolom air. Kebiasaan memijah pada malam hari dan pada saat air laut pasang, ada kaitannya dengan naluri keamanan, yaitu untuk menghindarkan telur dari ancaman predator, dan upaya penyebaran zygot secara luas melalui arus air pasang  (HICKMAN, 1992 dalam SETYONO, 2006). Semua tingkatan pada fase-fase reproduksi kekerangan dikontrol oleh sistem hormonal, dan peningkatan kadar hormonal di dalam tubuh kekerangan dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk lama penyinaran (photopheriod), suhu air (temperature) dan nutrisi (LASIAK, 1987; GRANGE, 1976 dalam SETYONO, 2006; SUWANJARAT et al., 2009).

HABITAT A. PILULA

Menurut SETYONO (2006) jenis-jenis kekerangan laut ada yang hidup di dasar perairan (benthic) maupun di permukaan (pelagic). Mayoritas kekerangan adalah benthik, baik hidup diperairan dangkal (littoral) maupun perairan dalam (deep zone). Sedangkan menurut PATHANSALI dan SOONG (1958); BROOM (1982); OEMARJATI dan WARDHANA (1990) manyatakan bahwa jenis bivalve umumnya terdapat pada habitat perairan litoral sampai bertahan pada kedalaman kurang lebih 500 m. Hewan ini sebagian besar membenamkan diri dalam pasir atau lumpur.

A. pilula dapat tumbuh dengan baik pada zona perairan litoral dan sublitoral dengan tipe perairan yang tenang, terutama di teluk berpasir dan berlumpur sampai pada kedalaman 30 m tetapi yang biasa dijadikan tempat hidup adalah daerah litoral dimana daerah tersebut masih terkena pasang surut (POUTIERS, 1998).

MUDJIONO dan KASTORO (1997) menambahkan dari penelitian mengenai kepadatan A. pilula di Teluk Miskam Panimbang Banten, Jawa Barat, jenis kerang tersebut banyak terdapat daerah pasang surut rendah yang bersubstrat lumpur berpasir dengan kisaran kedalaman 0,75–3 m. Sedangkan pada penelitan mengenai struktur komunitas makrozoobenthos pada kawasan budidaya tambak di pesisir Malakosa Parigi–Moutong, Sulawesi Tengah beberapa spesies A. pilula ditemukan pada wilayah pantai dan mangrove (MASAK dan PIRZAN, 2006).

BROOM (1980) dalam GUILBERT (2007) menemukan beberapa hewan memangsa kerang Anadara kecil di wilayah Asia Tenggara (sebagai predator alami) antara lain dari spesies gastropoda Natica maculosa dan Thais carinifera, bintang laut Asterias amurensis, dan jenis ikan Plotosus anguillaris dan beberapa spesies burung greenshank, Tringa nebularia.

Pada habitat kerang A. pilula dibutuhkan kondisi alami dengan air yang tenang dengan sirkulasi air dan salinitas yang cukup mendukung. Beberapa faktor seperti iklim, kedalaman perairan, salinitas, dan jenis substrat merupakan beberapa variabel lingkungan yang dapat mendukung kehidupan moluska dengan habitat yang ditempati, dimana hal ini akan terkait dengan suplai makanan bagi moluska (DANCE, 1977).

KEBIASAAN MAKAN DAN CARA MAKAN

DEBENAY (1994) dalam NURDIN et  al. (2008) menyatakan faktor biologi yang mempengaruhi kehidupan kerang laut adalah fitoplankton, zooplankton,  zat organik tersuspensi dan makluk hidup di lingkungannya. Menurut SOEMODIHARDJO (1986); CAPENBERG (2008) semua jenis kerang–kerangan mempunyai kebiasaan makan (feeding habit) dengan memangsa partikel–partikel yang berupa mikroorganisme ataupun sisa–sisa bahan organik (detritus).

Hal ini dikarenakan pada kerang memiliki pola makan yang bersifat filter feeder yaitu menyaring segala jenis makanan di sekitarnya sehingga dapat mengakumulasi mikro organisme (termasuk bakteri dan virus) dan bahan asing lain termasuk logam berat terserap dan tersimpan di dalam pencernaannya tanpa meracuni kerang itu sendiri; (NURJANAH et  al., 2005; JALAL et  al., 2009;  REDDY et al., 2007 dan KRONKVIST, 2006 dalam SOEGIANTO dan SUPRIYANTO, 2008; NANIK, 2008).

Secara ekologi, filtrasi yang dilakukan oleh kerang laut bertujuan untuk menghindari kompetisi makanan sesama spesies (BACHOK dan TSUCHIYA, 2006).    A. pilula tergolong filter feeder yaitu mengambil makanan dengan cara menyaring makanan melalui insang. Makanan kerang adalah jasad renik terutama plankton, bahan-bahan organik dari sungai (PATHANSALI dan SOONG, 1958). Menurut SOEMODIHARDJO et al. (1986) bahwa partikel–partikel makanan yang disaring dari dalam air dan dipilah sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Adapun cara pengambilan makanannya adalah dengan membuka cangkangnya sedikit dan pada bagian tepi mantel diulurkan ke sisi cangkang. Setelah itu mantel berkontraksi sehingga ruangan di antara kedua lobi tersebut akan terbentuk celah. Bersamaan dengan aliran air ini akan terbawa sejumlah makanan. Adapun pada sisi-sisi makanan yang tidak diinginkan akan dikeluarkan melalui celah excurrent. Cara makan yang demikian menyebabkan terjadinya akumulasi polutan di dalam tubuh kerang tersebut (PATHANSALI dan SOONG, 1958).

BROOM (1985); SOEMODIHARDJO et al. (1986) menambahkan bahwa Anadara memilki kemampuan sebagai hewan deposit (deposite feeder) atau bahkan sebagai pemakan suspensi (suspention feeder) pada perairan yang memiliki padatan tersuspensi yang cukup tinggi. Anadara tidak pernah menggali dalam pada lumpur karena memilki siphon yang pendek. Detritus dan mikroalga yang disipon dari lapisan interface lumpur dan air selama pasang berlangsung, dimana kerang menyaring air melalui insang untuk bernafas sekaligus menyaring makanan. Broom (1985) menyatakan bahwa terdapat diatom dalam jumlah besar pada sampel air yang diambil pada lapisan bentik dimana Anadara hidup.

DISTRIBUSI A. PILULA

A. pilula atau sering disebut kerang bulu adalah jenis kerang yang termasuk ke dalam famili Arcidae. Distribusi A. pilula tersebar di wilayah pantai Indo–Pasifik (LUTAENKO, 2007) seperti negara India, Srilangka, negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand hingga Selatan Queensland (NEIL et al., 2002). Distribusi kerang ini bergantung pada jenis sedimen yang terdapat pada dasar dan zona perairan (POUTIERS, 1998).

Gambar 3. Distribusi A. pilula (Poutiers, 1998)

Habitat A. pilula terdapat pada sedimen dasar perairan yang lembut seperti pasir, lumpur maupun campuran pasir dan lumpur. Sedimen merupakan tempat membenamkan diri dan dapat dijadikan indikasi distribusi kerang (POUTIERS, 1998). Sedimen lumpur mengkarakteristikkan perairan yang berarus lemah dan bertemperatur tinggi. Kekeruhan tidak mempengaruhi bivalvia pada umumnya, hal ini dikarenakan bivalvia mampu menyeleksi, partikel sedimen yang rnasuk (KIØRBOE et al., 1981).

Anadara banyak ditemukan pada perairan air tawar maupun air laut, baik di ekosistem terumbu karang, mangrove maupun estuarin (ROMIMOHTARTO dan JUWANA., 2001). Keadaan pada suatu ekosistem sangat mempengaruhi kelangsungan hidup Anadara seperti perairan yang tenang dan subur, keadaan substrat yang sesuai, arus yang relatif lemah, suhu, cahaya dan oksigen terlarut yang memadai. Ekosistem tersebut menjadi tempat berlindung dari pemangsa (predator). Untuk mengidentifikasi jenis/spesies kerang dapat dilihat dan bentuk cangkangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Afiati, N. 2005. Karakteristik Pertumbuhan Alometri Cangkang Kerang Darah Anadara indica (L.) (Bivalvia : Arcidae). Jurnal Saintek Perikanan 1, (2): 45-52.

Afiati, N. 2007. Gonad Maturation of Two Intertidal Blood Clams Anadara granosa (L.) and Anadara antiquata (L.) (Bivalvia: Arcidae) in Central java. Journal of Coastal Development 10, (2): 105–113.

Awang, A.J. Hazmi., A.B.Z. Zuki, M.M. Noordin, A. Jalila and Y. Norimah. 2007. Mineral Composition of the Cockle (Anadara granosa) Shells of West Coast of Peninsular Malaysia and It’s Potential as Biomaterial for Use in Bone Repair. Journal of Animal and Veterinary Advances 6, (5): 591-594.

Bachok, Z., P. L. Mfilinge dan M. Tsuchiya. 2006. Food Sources of Coexisting Suspension-Feeding Bivalves as Indicated by Fatty Acid Biomarkers, Subjected to The Bivalves Abundance on a Tidal Flat. Journal of Sustainability Science and Management. 1: 92-111.

Balai Riset Perikanan Laut, 2004 Musim Penangkapan Ikan di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 116hlm.

Baron, J. 2006. Reproductive Cycles of the Bivalvia Molluscs Atactodea striata (Gmelin), Gafarium tumidum Roding and Anadara scapha (L.) in New Caledonia, Australian Journal of Marine and Freshwater Research, 43(2)           p. 393–401.

Bayne, B.L 1976. Marine Mussel. Their Ecology Zoology and Fisiology. Cambridge Univercity Press. Pp 17-18 p.

Bengen, D. G. 2009. Pentingnya Sumberdaya Moluska Dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Penghela Ekonomi Perikanan. Makalah Seminar Nasional Moluska ke-2 Bogor, 11–12 Februari 2009. 18 hlm.

Broom, M. J. 1982. Analysis of the Growth of Anadara granosa (Bivalvia: Arcidae) in Natural, Artificially Seeded and Experimental Populations. Marine Ecology – Progress Series (9): 69-79, 1982.

Broom, M. J. 1985. Biology and Culture of Marine Bivalves Molluscs of The Genus Anadara. ICLARM Stud. Rev. 37p.

Cappenberg, H. A.W.  2008. Beberapa Aspek Biologi Kerang Hijau Perna viridis Linnaeus 1758. Jurnal Oseana LIPI 33, (l) : 33-40.

Dance, S.P. 1977. The Encyclopedia of Shells. Blanford Press. London. 288p.

Gabbott, P.A.1983. Development and Seasonal Metabolic Activities in Marine Molluscs, in the K.M. Wilbur (Ed) The Mollusca. Vol 2: Environmental Biochermistry and Phycology. Academic Press, Inc. 351–402 pp.

Guilbert, A. 2007. State of The Anadara tuberculosa (Bivalvia: Archidae) Fishery In Las Perlas Archipelago, Panama. Submitted as Part Assessment for The Degree of Master of Science (Master Thesis). Centre for Marine Biodiversity and Biotechnology School of Life Sciences Heriot-Watt University Edinburgh. 72 p.

Hutomo, Malikusworo dan M. K. Moosa. 2005. Indonesian Marine and Coastal Biodiversity: Present Status. Indian Journal of Marine Sciences 34, (I), pp.88-97.

Jalal, K.C.A., M. Najiah. M. Fathiyah, Y. Kamaruzzaman. M. N. Omar., S.M.N. Amin dan I. Jaswir. 2009. Bacterial Pollution in Molluscs Arch Clam, Orbiciliaria orbiculata and Blood Cockle, Anadara granosa of Pahang Estuary, Malaysia. Journal of Biological Science 2009.©Asian Network for Scientific Information.

Kiørboe, T. dan F. Møhlenberg, 1981. Particle selection in suspension-feeding bivalves. Mar. Ecol. Prog. Ser. 5: 291-296.

Lutaenko, K. A. 2007. A Preliminary Review of Species Richness of The Anadarine Bivalves (Arcidae) in The Indo-West Pacific Region. Biodiversity of The Marginal Seas of The Northwestern Pacific Ocean: Proceedings of the Workshop, Institute of Oceanology CAS, Qingdao, China, November 21-23, 2007. p94-98

Masak, Pong., P. Rani dan A. M. Pirzan. 2006. Komunitas Makrozoobentos Pada Kawasan Budidaya Tambak di Pesisir Malakosa Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah. Jurnal Biodiversitas 7, (4): 354-360.

Mubarak, H. 1987. Distribusi Anadara spp. (Pelecypoda: Arcidae) Dalam Hubungan dengan Karakteristik Lingkungan Perairan dan Asosiasinya dengan Jenis-jenis Moluska Bentuk Lainnya di Teluk Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tesis (Tidak dipublikasikan). Institut Pertanian Bogor. 156p.

Mudjiono dan W. W. Kastoro. 1997. Density, Biomass and Distribution of Cockle, Potiarca Pilula (Reeve, 1844) in The Bay of Miskam, West Java. Indonesia. Proceding of Seventh Workshop of The Tropical Marine Mollucs Progamme (TMMP). Java Indonesia 11–21 November 1996. Phuket Marine Biological Center Special Publication 17 (1): 193-197 (1997).

Nanik, Suprapti Heru. 2008. Kandungan Chromium Pada Perairan, Sedimen dan Kerang Darah (Anadara granosa) di Wilayah Pantai Sekitar Muara Sungai Sayung, Desa Morosari Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Jurnal Bioma 10, (2): 53-56.

Neil, K.M., J. Sheaves, A. Wiebkin. 2002. Port Baseline Surveys for Introduced Marine Pests: The Port of Cape Flattery Final Report Prepared for Ports Corporation Queensland. CRC Reef Research School of Marine Biology and Aquaculture May 2002. James Cook University. Australia 50p.

Nurdin, J., J. Supriatna, M. P. Patria, A. Budiman. 2008. Kepadatan dan Keanekaragaman Kerang Intertidal (Mollusca: Bivalve) di Perairan Pantai Sumatera barat. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Nurjanah, Z. dan Kustiyariyah. 2005. Kandungan Mineral dan Proksimat Kerang Darah (Anadara granosa) yang Diambil dari Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Buletin Teknologi Hasil Perikanan VIII (2) FPIK IPB.

OBIS Indo-Pacific Molluscan Species Database at The Academy of Natural Science. http://clade.ansp.org/obis/search.php/19092 diakses pada tanggal 7 Desember 2009

Oemardjati, B. S dan W. Wardhana. 1990. Taksonomi Avertebrata. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 177 hlm.

Pathansali dan M.K. Soong. 1958. Some Aspeck of Cockle (Anadara granosa) Culture in Malaya. Proc. Indo Pacific Fish. Coun. 8 (2): 20–23.

Poutiers, J. M. 1998. Bivalves. Acephala, Lamellibranchia, Pelecypoda. p. 123–362. In: Carpenter, K. E. and V. H. Niem. 1998. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. The Living Marine Resources of The Western Central Pacific. Volume 1. Seaweeds, Corals, Bivalves, and Gastropods. Rome, FAO.

Romimohtarto, K. dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta. 540p

Setyono, D. E. D. 2006. Karakteristik Biologi dan Produk Kekerangan Laut. Jurnal Oseana 31, (1) : 1–7.

Soegianto, A. and A. Supriyanto. 2008. Concentration of Pathogenic Bacteria and Trace Metals in Bivalve Mollusk Anadara granosa (Bivalvia: Arcidae) Harvested from East Java Coast, Indonesia. Jurnal Cah. Biologi Marine (49): 201-207.

Soemodihardjo, S., D. Roberts dan W. Kastoro. 1986. Shallow Water Marine Molluscs of North-West Java. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 83p.

Suwanjarat, J ., C. Pituksalee and S. Thaongchai1. 2009. Reproductive Cycle of Anadara granosa at Pattani Bay and its Relationship with Metal Concentrations in The Sediments. Songklanakarin Jurnal of Science and Technology 31 (5).

www.seashellhub.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.